Pembangunan Tol Trans Jawa

Jalan Tol Trans Jawa merupakan jaringan jalan tol yang menghubungkan antar kota-kota di pulau Jawa. Jalan tol ini akan menghubungkan dua kota terbesar di Indonesia, Jakarta dan Surabaya melalui jalan tol. Jalan tol trans Jawa yang akan dibangun adalah sepanjang 642,56 kilometer. Jalan tol trans Jawa tersebut dibangun untuk memfasilitasi pergerakan mobil pribadi dan juga angkutan umum. Dengan demikian, pembangunan jalan tol Trans Jawa itu secara otomatis akan meningkatkan penggunaan BBM untuk kendaraan pribadi dan juga angkutan umum. Pembangunan jalan tol Trans Jawa, selain akan memboroskan penggunaan BBM, akan menimbulkan bencana yang lebih besar lagi berupa kerusakan lingkungan, mengganggu swasembada pangan, dan proses pemiskinan yang masif. Salah satu contoh jalan tol Ngawi-Solo. Jalan tol Ngawi-Solo akan melintasi daerah pertanian yang subur, yang selama ini menjadi salah satu andalan penghasil padi di daerah itu. Jalan tol Ngawi-Solo akan menggusur lahan pertanian dan beberapa sekolah dasar. Bila tanah-tanah yang subur itu digilas untuk jalan tol dan fasilitas pendidikan, jelas itu akan mengurangi jumlah produksi padi di Jawa Tengah dan Jawa Timur serta akan melahirkan angka pengangguran dan kemiskinan baru.

Di sisi lain, Jalan tol trans Jawa ini dibangun memiliki maksud dan tujuan agar dapat meningkatkan aksesibititas dan kapasitas jaringan jalan dalam melayani lalu lintas di koridor Trans Jawa, dan juga meningkatkan produktivitas melalui pengurangan biaya distribusi dan juga menyediakan akses ke pasar regional maupun internasional, merupakan salah satu koridor target MP3EI dengan penyelesaian sampai dengan 2014, menyediakan jaringan jalan yang efisien pada Pulau Jawa dan juga dapat berfungsi sebagai Solo Outer Ringroad. Berdasarkan studi kasus yang saya peroleh sebagian besar lahan yang digunakan untuk pembuatan jalan tol trans Jawa memiliki kemampuan lahan tinggi karena termasuk lahan pertanian. Kemampuan lahan tinggi adalah kualitas lahan yang dapat digunakan untuk pertanian, kehutanan, permukiman, industri, infrastruktur, dan lain-lain. Lahan dengan kemampuan tinggi biasanya ditanami berbagai jenis tanaman pertanian (lihat gambar 4-2).

Pengalihan lahan dari lahan pertanian menjadi lahan untuk pembangunan infrastuktur berakibat pada lingkungan sekitar. Akan ada ketidakseimbangan lingkungan di sekitar lahan yang telah dibangun jalan tol trans Jawa, seperti misalnya berubahnya struktur tanah atau bisa juga mengalami kesalahan land clearing atau terdapat sisa tanah galian yang akan berakibat paterbentuknya genangan lumpur saat musim hujan. Hal itu tidak akan terjadi apabila mematangkan perencanaan dengan memerhatikan 4 pilar pembangunan berkelanjutan yang dari keempat pilar tersebut harus saling berhubungan. Ada dua kategori klasifikasi kemampuan lahan, yaitu: kelas dan subkelas. Berdasarkan pengelompokan kelas, lahan yang digunakan untuk pembuatan jalan tol trans Jaw termasuk dalam kelas I dan kelas II, karena lahan yang akan dijadikan jalan tol trans Jawa sebagian besar adalah lahan pertanian (sawah dan perkebunan). Biasanya sawah cocok ditanami tanaman pangan. Sebaiknya untuk pembangunan infrasturktur harus memperhatikan wilayah pembangunan. Kita bisa memanfaatkan lahan-lahan yang tidak begitu berpengaruh terhadap keseimbangan lingkungan misalnya padang semak belukar.

Sedangkan sub kelasnya lahan pembangunan tol trans Jawa adalah subkelas (T) kemiringan lereng, karena sebagian lahan yang digunakan adalah lahan pertanian yang memiliki faktor penghambat kemiringan lereng, panjang lereng, dan bentuk lereng yang sangat mempengaruhi erosi. Penentuan lahan dengan menggunakan software yang dirancang apabila menginputhasil pemetaan, yang akan melakukan proses analisa, perhitungan dan penyajian data lahanuntuk mendapatkan lokasi dan informasi konten pengadaan lahan/persil tanah juga salah satuunsur untuk mendapatkan lokasi yang pas untuk pembuatan jalan tol trans Jawa. Selainmenentukan lokasi pembuatan lahan dengan software juga bisa melakukan pengecekanlapangan (ground truth) dengan membawa alat pengukur posisi dan daftar tabular.